Anak Susah Fokus, Salah Siapa?

Anak sudah terlihat lama duduk di depan buku, tapi setelah selesai malah gak inget apa-apa? Atau mungkin ketika anak baru belajar 5 menit, tapi pikirannya sudah kemana-mana? Inilah realita yang sering terjadi di masa kini, terutama untuk pelajar-pelajar yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Banyak anak terlihat sudah “belajar”, tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar fokus, sehingga materi yang dipelajari hanya lewat di otak saja. Orang tua seringkali menspekulasi fenomena tersebut sebagai anak yang “malas”. Padahal tidak selalu seperti itu. 

Faktanya, kemampuan fokus anak memang sedang banyak diuji terutama di era modern yang semakin canggih. Gangguan untuk fokus bisa datang dari segala arah, seperti gadget, notifikasi HP, kebiasaan untuk multitasking, hingga pola hidup yang kurang sehat. Oleh karena itu, otak anak jadi terbiasa dengan stimulasi yang cepat dan instan, sehingga ketika harus duduk dengan tenang dan belajar, otak anak sulit untuk fokus dengan apa yang seharusnya dikerjakan. Kalau dibiarkan begitu saja, dampaknya tidak kecil. Semakin besar, anak akan lebih sulit memahami pembelajaran di sekolah, nilai bisa menurun, dan yang paling berbahaya, emosi anak akan semakin tidak stabil, lebih mudah frustasi. Anak merasa, mereka sudah memberikan yang terbaik, tapi hasilnya jauh dari ekspektasi. Kekecewaan itu berisiko tinggi membawa anak menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

Di sisi lain, ada hal yang sering dilewatkan orang tua dan dianggap sepele, padahal seharusnya hal ini menjadi yang paling “esensial” untuk menghasilkan tumbuh kembang anak yang optimal: kebutuhan dasar otak anak. Orang tua sebagian besar fokus pada  jadwal belajar dan metode belajar baik secara akademik maupun non-akademik. Tapi, mereka seringkali lupa bahwa otak anak juga membutuhkan “bahan bakar” yang tepat. Inilah peran nutrisi sebagai “bahan bakar” untuk anak. Nutrisi berperan besar dalam membantu fungsi kognitif, termasuk konsentrasi dan daya ingat. Sayangnya, pola makan sehari-hari tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan ini secara maksimal. 

Mungkin, makan anak terasa cukup, tapi gizi yang terkandung belum tentu cukup untuk mendukung kerja otaknya. Ditambah lagi dengan kualitas tidur yang buruk, kemampuan untuk fokus semakin menurun. Inilah mengapa penting untuk melihat latar belakang pendukung fokus anak dari sudut pandang yang lebih lengkap. Bukan hanya soal kebiasaan dan metode mengajar, tapi juga soal bagaimana kita sebagai orang tua mendukung kerja otak anak dari dalam yang menjadi pondasi anak. 

Anak Susah Fokus, Salah Siapa?

Selain memperbaiki pola belajar dan mengurangi distraksi, pemenuhan nutrisi yang tepat bisa menjadi salah satu kunci. Dalam beberapa kondisi, tambahan nutrisi dari suplemen juga bisa menjadi pendukung, terutama ketika kebutuhan harian sulit terpenuhi hanya dari makanan. Phytolite, suplemen herbal alami dari daratan tiongkok, berakar pada konsep TCM (Traditional Chinese Medicine), membantu memelihara kesehatan sekaligus mendukung perkembangan otak anak bisa menjadi pilihan yang direkomendasikan untuk menjawab keresahan orang tua terhadap anak yang susah berkonsentrasi ketika belajar, di rumah maupun di sekolah.

Penggunaannya pun cukup praktis dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, dikonsumsi sebelum belajar atau menjelang ujian sebagai bentuk dukungan tambahan untuk membantu menjaga konsentrasi ketika mengerjakan ujian. Untuk aturan konsumsi, anak usia 6-12 tahun dapat mengkonsumsi ½ hingga 1 tablet per hari, sedangkan aturan konsumsi untuk dewasa di 1-2 tablet per hari, diminum sebelum makan. Phytolite tersedia dalam kemasan box berisi sachet dengan isi 20 tablet, sehingga mudah digunakan dalam rutinitas harian yang sibuk.

Meski begitu, penting untuk diingat bahwa suplemen bukanlah satu-satunya solusi untuk mencapai perkembangan anak yang optimal. Perkembangan fokus anak tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola belajar, lingkungan yang kondusif, gaya hidup yang sehat, hingga pola istirahat yang cukup. Jadi, ketika melihat anak yang kurang fokus ketika belajar, mungkin inilah saatnya bagi para orang tua untuk peduli dan memperhatikan kondisi anak, melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi, ini bukan sekadar soal kemauan anak dalam belajar, tetapi juga tentang kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Karena pada akhirnya, durasi belajar yang lama tidak selalu mempengaruhi tingkat konsentrasi anak, tetapi memastikan mereka berada dalam kondisi terbaik untuk benar-benar bisa belajar. Inilah mengapa peran orang tua sangat besar untuk menentukan masa depan anak. 

Mi Instan Sehati: Solusi Untuk Anak yang Susah Makan!

Leave a Reply